Aku tiduran sambil baca majalahyang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu.Sekenanya saja kubuka halaman majalah.Tunggu ya..! Bokep Jilbab meloncat begitu saja katakata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkotdengan seorang wanita, separuh baya lagi. Aku tidak menjepit tubuhnya.Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Lihatlah, masak ia begitu berani tadimenyentuh kepala Junior saat memijat perut. Iamenyenggol kepala juniorku. Terganggu wanita muda yang diruang sebelah yang kadangkadang tanpa tujuan jelasbolakbalik ke ruang pijat.Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihatwajahnya. Si Junior melemah.Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Tunggu apa lagi. Aku perhatikania sejak bangkit hingga turun. Ada sekatsekat,tidak tertutup sepenuhnya. Begini saja daripada repotrepot.Anggap saja tiaptiap baju sama dengan jumlah kancingbajuku: Tujuh. Aku tersetrum. Shit! Bibirnya sedang tidak terlalusensual. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi,setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuiltempat duduk.Terima kasih, ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkanlagi, sehingga tidak perlu curicuri pandang meliriklehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehinggaterlihat garis bukitnya.Saya juga




















