Dan aqu selalu memanggilnya Tante Amanda.“Bagus sekali anjingnya..”, piji Tante Amanda.“Iya, Tante. Setengah mati Bapak dan Ibu membujuk serta menghiburku. Bokep abg Padahal aqu sudaH punya mobil. Sehingga pahanya jadi terbuka cukup lebar. Namun Lidya malah membalasnya dgn sinar mata yg saat itu sangat sulit ku artikan.“Kenapa kau menciumku..?” tanyaqu polos.“Aqu mencintaimu”, sahut Lidya agak ditekan nada suaranya.“Cinta..?” aqu mendesis tak mengerti.Entah kenapa Lidya tersenyum. Ayo..”, ajak Lidya setengah memaksa.“Namun apa nanti Mama dan Papa kamu tak marah, Lin?”, tanyaqu masih tetap tak mengerti keinginannya.Lidya tak menyahuti, malah berdiri dan menarik tanganku. Suasananya sepi-sepi saja. Namun sama sekali aqu tak merasakan apa-apa.Dan sikapku tetap dingin meskipun Lidya sudah melingkarkan tangannya ke leherku. Seperti biasanya, setiap hari Sabtu sore aqu selalu mengajak Bobby, anjing pudel kesayganku jalan-jalan mengelilingi Monas. Lidya ikut berbaring di sampingku. Bahkan dia menekan dadanya yg membusung padat ke dadaqu.“Memangnya aqu harus bagaimana?” aqu malah balik bertanya.“Ohh..”, Lidya mengeluh panjang.Dia seakan baru benar-benar menyadari kalo aqu bukan hanya tak pernah pacaran,




















