“Tumben Zainal tidurmu sebentar, bangunmu pagi sekali ya, aku sempat melihatmu sibuk tapi karena masih ngantuk jadi aku pilih tidur lagi aja daripada membantumu”, komentarnya. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 5.42 pagi. Bokep Setiap baris rencana yg kucatat kubayangkan pula langkah-langkah kerja yg akan kulakukan. “Terus yg mengantar Mbak ke bus di Balikpapan, suami yg ke berapa?”, tanyaku halus. Kupindahkan semua barang diatas meja keatas laci, lalu kubersihkan meja itu. Sesampai di kamar aku duduk termenung oleh pikiran pekerjaan diatas ranjang Indah yg lebih dekat dengan pintu kamar dibanding ranjangku. “Lha terus kenapa Mbak mau nginap denganku padahal aku kan nggak ngajak”, tanyaku dengan suara berbisik. “Iya, terus akan kusuruh hantu-hantu itu nyubitin seluruh tubuhmu tak tersisa”, balasnya dengan senyum kemenangan. “Dia yg kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. Zainal, mmh..”. Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak.




















