Namun justru ibuku yang mendamaikan perselisihanku dengan Ayah dengan alasan klasik yaitu Ayah sudah berjanji untuk tetap membiayai hidup kami dan sebagai jaminannya, 2 warteg di Tegal secara penuh menjadi milik Ibu. “Enak kan Mbak?”, tanyaku basa-basi. Bokep abg “Eh… ada Mas Kemal..”, serunya sedikit menjerit dan melakukan gerakan yang salah sehingga handuknya melorot hingga perut sehingga payudaranya yang sebesar pepaya tumpah keluar. “Gendeng kamu… aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih. Nantikan edisi berikutnya. “Gombal kamu”, serunya dengan wajah agak merah pertanda rayuanku mengena. Bahkan saking ‘ngebetnya’, pernah Mama Winda mengajak aku bertemu di luar rumah karena ada Bapak di rumah. “Mbak… saya semprot di dalam ya?..” tanyaku basa-basi. “Saya janji tidak akan main sama Mama Lela kalau Mbak rutin kasih jatah saya…he3x….”, pintaku manja. Sayang aku belum berani melakukannya. “He’eh…”, dia mengangguk dan terus menciumiku. ‘Pantas Bapak ketagihan’ pikirku sambil terus menikmati buah dada impianku itu.




















