Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Bokep Barat Nafasnya tercium hidungku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka? “Masih sepi ini..!” kataku makin berani.Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Si Junior sudah mengeras. Ah segar. “Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Nafasnya tercium hidungku. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Pasti terburu-buru. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku.




















