Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.“Saya suka kaki Mbak. Bokepindo Paha kanannya sudah tidak melilit leherku. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta, dengan sakral dalam percintaan. Hisap! Mbak Lia masih tersenyum. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku berair berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu sedalam-dalamnya. Lalu saya menengadah. Indah. Aku menunduk kembali. Bibir Mbak Lia masih tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.“Jhony, kamu tahu warna apa yang tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di antara celah lutut Mbak Lia yang meregang. Tapi ketika menengadah menatap wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.“Saya suka kaki Mbak. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku berair berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya.




















