Bentuk tubuhnya sama langsing, hanya dada Lilis sedikit lebih besar. Aku coba menduga-duga, mungkin dia tak betah karena mengerjakan urusan rumah tangga mirip pembantu. Bokepindo Kami, saya, isteri dan anakku tak pernah menganggap dia sebagai pembantu. Tiap hari dia memang mengepel lantai dan itu biasa. “Kenapa Lis?”
“Maafkan saya Kang….”
“Kamu salah apa” Dia tak menjawab, masih terisak. Lilis baru saja selesai mengepel lantai lalu ke belakang. maafkan saya …. Tunggu apa lagi? Lilis melepas ciuman lalu mengerang sambil kepalanya mendongak menikmati remasanku. “Makasih Kang …. Kami berciuman. Tp menyadari ‘keadaan’ begini, sebagai lelaki normal tak urung ada yg menggeliat di balik celana pendekku. Aku lalu menghentikan pompaan, memberi kesempatan dia menikmati orgasmenya. Koran kuletakkan, belum sempat Aku membuka mulut untuk nanya, tiba-tiba Lilis menghambur ke arahku, duduk di pangkuanku dan memeluk tubuhku. Aku terus saja membaca. Aku mohon ….” Rangsanganku sdh tinggi, tak ada lagi pikiran jernih, gelap mata.




















