Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Aku tersetrum. Bokep indo Ia malah melengos. Begini saja daripada repot-repot. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Aku masih termangu. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku pun segan memulai cerita. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku terlambat setengah jam. Atau apalah? Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Aku harus memulai. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan.




















