Aku membayangkan nikmatnya bergumul dengan Dewi dan Fenny, kedua wanita cantik dan montok itu. Bokep Maunya”, sahut Yen sambil tertawa.Aku menutup telepon sambil tersenyum sendiri. Tahu kan, maksudku? Kutelepon Yen.“Gimana tadi?” tanyaku. “Yah, udah”, sahut Yen.“Keduanya udah kenalan sama Mei. Benar! Fenny udah nggak sabar, nih. Fenny mengerang keras. Desah puas terdengar dari mulutnya.“Fenny masih menunggu”, kataku mengingatkan.Ia mengangguk dan melepaskanku. Dua cewek Cina, putih mulus, cantik dan bahenol, dapat kusetubuhi bergantian dalam semalam.”“Apa yang paling Mas Ardy suka”, sahut Dewi. Ia menggeletar. Mereka tahu kalau aku dan Mei itu janda-janda muda. “Aku berpikir, gimana rasanya kalau dalam semalam aku menyetubuhi kalian berdua serta Mei dan Yen bergantian ya?” kataku. Pasti kita akan main berlima. Gimana?”
“Setujuu..!!” sahut Mei, Yen dan Fenny.Aku hanya tersenyum bangga. Dewi dan Fenny memandikanku. Kursi kecil merah yang didudukinya tak mampu memuat pantatnya yang lebar itu. Wajahnya yang memerah itu dialiri butiran-butiran keringat.




















