Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Bokep abg Bicara apa? Masih melongo.“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.“Ini..?” kataku.“Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Dari atas: Turun. Ah. Atau apalah? Ah bodoh. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Shit! Ia kerja di sana? Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Satu dua, satu dua. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”Aku langsung beres-beres dan pulang. Tetapi, bayangan itu terganggu. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Ia malah melengos. Aku masih mematung. Lalu pijitan turun ke bawah. Aku jelas mendengarnya dari sini.Kembali ruangan sepi.




















