Mama Winda sedikitpun tidak memberi penolakan, bahkan matanya semakin sayu. Bokepindo Kami bermesraan sampai akhirnya “on” kembali dan melanjutkan satu ronde pertempuran sebelum pergi tidur. Mama Winda memeluk dan menciumku mesra,”Baik… kalau Bapak enggak ada, aku SMS aku ya….”
“Siip… saya bawa kondom deh…he3x….” kataku girang. “Gendeng kamu… aku ini kan ibu tirimu”, katanya berdalih. Aku belum pernah ketemu”, sergah Mama Winda. Warna putingnya sudah gelap menghiasi buah dadanya yang masih lumayan kencang. “Ya… saya bisa memberikan sentuhan dan kepuasan yang lebih buat Mbak daripada yang diberikan Bapak…”, kataku persuatif. Awalnya aku mengambil bra warna hitam dengan tulisan ukuran 36BB yang mulai memudar. Mama Winda menggelinjang dan meremas kepalaku,”Kamu…kamu bandel banget Kemal….okh… okh…”. “Kapan-kapan pakai kondom ya…. Padahal tentu saja aku berbohong kalau bapak pernah cerita, tapi kalau ukuran buah dada, mana kutahu dengan pasti. Karena belum tahu kalau aku datang, Mama Winda keluar kamar mandi dengan santainya hanya berbalut handuk yang hanya “aspel” – asal tempel.




















