“Ray, kamu tahu?”
“Apa?”
“Masalah Jay. Bokep Jepang “Hihihi, ada Ray.” Chie mencondongkan kepalanya ke depan dari balik pagar dengan sikap manja. Ah, Jay. Merasakan kehangatan air matanya yang membasahi dadaku. “Chie..” desahku. Seharusnya aku sudah bisa menduga ketidak-harmonisan hubungan mereka ketika ayah Chie meninggal dunia. Masih banyak gadis untukku. Selamat ulang tahun..!” Jay memukul kepalaku dengan sisi organizernya. Sial benar. “Yang tadi itu,” kata Chie.“Chie, bagiku keperawanan itu sama saja bagi semua orang. Aku dapat melihat alis matanya yang berkerut. “Ray…”
Ah! Demi Tuhan. Itulah sahabatku, gadis cerewet yang berbicara seperti kereta api, yang kukenal sejak penataran mahasiswa baru. Sementara kurasakan cubitan jari-jari mungil itu di pipiku.Malang, pukul 01:15 WIBAku menikmati udara malam pegunungan ini, seakan-akan aku sendirilah yang memegang peranan hantu dalam kegelapan ini. Menggerakkan telunjuknya menelusuri garis-garis dadaku, membiarkanku tertawa kecil. Karena seperti kata pepatah kuno, hanya setan yang mengerti setan. Dan kubiarkan Jay larut dalam lamunannya. Karena bagiku Chie tak lebih dari sekedar bunga mawar yang jingga di antara kumpulan bunga-bunga mawar




















